Banner 468 x 60

Loading...

MOTIVASI MAHASISWA MEMASUKI FAKULTAS AGAMA ISLAM - BAB II

Advertisement

B.    Visi Dan Misi Fakultas Agama Islam Universitas Al Washliyah Medan

1.      Sejarah Berdirinya Universitas Al Washliyah Medan

Dibanding dengan organisasi sosial keagamaan lain, semacam Nahdatul Ulama, Muhammadiyah, atau Syarekat Islam, Al-Jam’iyatul Washliyah yang didirikan di Medan pada tahun 1930, belum mendapat perhatian yang semestinya dalam kajian-kajian sejarah Islam moderen di Indonesia. Secara sederhana hal tersebut bisa dilihat dari keterbatasan publikasi tentang organisasi ini, khususnya jika dibandingkan dengan publikasi mengenai organisasi lainnya. Padahal, setidaknya dari segi kuantitas, Al-Jam’iyatul Washliyah cukup signifikan, sehingga oleh Karel A. Steenbrink ditempatkan pada posisi ketiga setelah Muhammadiyah dan Nahdatul Ulama.[1]
Pembicaraan mengenai berdirinya Al-Jam’iyatul Washliyah mesti didahului dengan catatan kecil tentang konfigurasi sosial, politik dan demografis Sumatera Timur. Hal ini tidak lain karena eksistensi Al-Jam’iyatul Washliyah sendiri dan kegiatan-kegiatannya seringkali dirumuskan dalam konteks merespon keadaan yang berkaitan dengan fakta-fakta sosial, politik dan demografis tersebut.
Pembukaan perkebunan secara besar-besaran oleh Belanda di Sumatera Timur adalah suatu awal bagi perubahan serius wajah daerah itu, khususnya dalam hal pertumbuhan dan diversifikasi penduduk. Kebutuhan akan pekerja (buruh perkebunan) dalam jumlah besar mengharuskan pemerintah kolonial mendatangkannya dari luar daerah, dengan pilihan utama pada etnis Cina dan Jawa. Keberadaan perkebunan ini mendorong tumbuhnya pusat-pusat kegiatan ekonomi yang pada akhirnya memancing perpindahan penduduk untuk turut menikmati perkembangan ekonomi yang sedangg berlangsung. Di samping buruh perkebunan yang secara terencana didatangkan oleh kolonial Belanda ke tanah Deli ini terutama berasal dari daerah-daerah yang bertetangga, seperti Minangkabau, Mandailing, Aceh dan Karo.
Pada tahun 1918, masyarakat Mandailing yang menetap di Medan berinisiatif mendirikan sebuah institusi pendidikan agama Islam, bernama Maktab Islamiyah Tapanuli (MIT). Mereka ini adalah pendatang dari daerah Tapanuli Selatan yang berbatasan langsung dengan tanah Minangkabau, Sumatera Barat.di samping dikenal sebagai komunitas yang kuat bergama Islam., suku Mandailing juga relatif berpendidikan lebih baik dari kelompok suku lainnya. Maktab tersebut signifikan dalam dua hal; pertama, ia adalah lembaga pendidikan Islam formal pertama di Medan; kedua, berdirinya Al-Jam’iyatul Washliyah merupakan gagasan dari para alumni Maktab tersebut.
Kegiatan pendidikan di MIT kelihatannya mencoba menggabungkan sistem tradisional dan moderen. Dari segi sisi, apa yang diajarkan di MIT tidak jauh berbeda dari pesantren-pesantren tradisional, Pada tingkat Tsanawiyah, misalnya, diajarkan kitab kitab tafsir jalalain, fath al-qarb, minhaj al-thalibin, sebagaiman umum berlaku pada lembaga-lembaga pendidikan Islam tradisional lainnya,  tetapi pengajaran sudah dilakukan secara klasikal dengan menggunakan media-media moderen seperti bangku, papan tulis dan sebagainya. Pendidikan di maktab ini sudah di bagi ke dalam tiga tingkatan: persiapan (tahjizi), awal (ibtida’i) dan menengah (tsanawi). Masih ada satu tingkatan tertinggi yang relatif lepas dari struktur tiga tingkatan di atas, karena kekhususan dan sedikitnya jumlah siswa yang mencapai tingkatan tersebut. Tingkatan ini diberi designasi Kelas Azhar, dimana diterapkan sistem halaqah dengan duduk dilantai.penamaan ini agaknya berkaitan dengan posisi Universitas Al-Azhar, Kairo, sebagai ‘kiblat’ pendidikan umat Islam kala itu, yang tidak saja membawa kesan ketinggian tingkatan, tetapi juga berwibawa religius-intelektual tertentu; beberapa dari guru guru MIT masa awal adalah alumni Timur Tengah dan sebagainya pernah belajar di Al-Azhar. Lembaga pendidikan Islam ini berkembang cukup baik: pada tahun 1930-an MIT telah mencapai sekitar 1.000 orang siswa dari berbagai daerah sekitar Medan.
Sepuluh tahun setelah berdirinya (1928), para alumni dan murid senior MIT mendirikan ‘debating club’ sebagai wadah untuk mendiskusikan pelajaran maupun persoalan persoalan sosial keagamaan yang sedang berkembang di tengah masyarakat. Pendirian debating club ini berkaitan dengan meluasnya diskusi-diskusi mengenai nasionalisme dan berbagai paham keagmaan yang terutama didorong oleh kaum pembaharu.[2] Heterogenitas penduduk daerah ini maupun Medan sendiri sebagai kota terbesar jelas merupakan lahan subur bagi tumbuhanya diskusi-diskusi bahkan konflik antara berbagai segmen masyarakat yang merespon perkembangan sesuai dengan kecenderungannya masing-masing.
Debating Club kelihatannya berhasil dalam program programnya dan dipandang sangat bermanfaat sehingga ada keinginan di kalangan eksponennya untuk mencari kemungkinan peran yang lebih signifikan dalam perkembangan masyarakat dan perubahan yang terus terjadi. Untuk tujuan ini, para anggota Debating Club merasakan perlunya wadah organisasi yang lebih besar dari sekedar kelompok diskusi. Lalu upaya ke arah ini mulai dirintis, hingga sebuah organisasi terwujud secara resmi berdiri pada 30 Nopember 1930. Itulah Al-Jam’iyatul Washliyah. Nama organisasi tersebut merupakan sumbangan Syekh Muhammad Yunus, guru kepala dan syekh senior MIT, yang secara khusus diminta menemukan nama yang cocok. Al-Jam’iyatul Washliyah (organisasi yang ingin menghubungkan) berkaitan dengan keinginan memelihara hubungan manusia dengan Tuhan, hubungan sesama manusia, antar suku, antar bangsa dan lain-lain.
Sebuah program kerja Al-Jam’iyatul Washliyah yang disusun pada masa awal berdirinya mencakup:
  1. Tabligh (ceramah agama)
  2. Tarbiyah (pengajaran)
  3. Pustaka / penerbitan
  4. Fatwa
  5. Penyiaran
  6. Urusan anggota, dan
  7. Tolong menolong.[3]

Dalam rangka operasionalisasi program-program ini dibentuklah majelis-majelis, adapun majelis-majelis yang digerakkan untuk intensifikasi kerja majelis tabligh, yaitu majelis yang mengurus kegiatan dakwah Islam dalam bentuk ceramah, majelis tarbiyah yaitu yang mengurus masalah pendidikan dan pengajaran; majelis Studies Fonds yaitu majelis yang mengurus beasiswa untuk pelajar-pelajar di luar negeri...; majelis fatwa yaitu majelis yang mengeluarkan fatwa mengenai masalah-masalah sosial yang belum jelas status hukumnya bagi masyarakat; majelis Hazanul Islamiyah yang mengurus dana bantuan sosial untuk anak yatim piatu da fakir miskin, dan majelis penyiaran Islam dia daerah Toba.[4]
Tabligh Al-Jam’iyatul Washliyah ditujukan untuk memperbaiki pemahaman keagamaan umat Islam. Dari segi keluasan sasarannya, Al-Jam’iyatul Washliyah melakasanakan tabligh internal (bagi anggota saja) dan tabligh eksternal dengan audiensi masyarakat secara umum. Lalu dikenal pula tabligh khusus para wanita (sayap keputrian organsasi ini berdiri pada tahun 1935). Tabligh dilaksanakan dalam frekuensi yang berbeda-beda: harian, mingguan, bulanan, atau insidental sama sekali. Tabligh pada saat peringatan hari besar Islam biasanya memiliki kesan lebih meriah dibanding pada saat saat lainnya. Para muballigh Al-Jam’iyatul Washliyah terkenal gigih berkeliling daerah melakukan dakwah menyampaikan ajaran Islam.
Lembaga pendidikan pertama sebagai hasil kerja Majelis Tarbiyah baru berdiri pada tahun 1932 di daerah Petisah, Medan. Maktab Djam’iatoel Washliyah, demikian nama lembaga ini, sudah ditata dengan sistem klasikal; dan dari kurikulumnya terlihat adanya orientasi kepada pendidikan moderen. Penyebarluasan informasi tentang pembukaan sekolah ini juga sudah menggunakan cara moderen yakni membuat selebaran yang berisi tujuan, tingakatan, seleksi masuk, dan materi pengajaran secara garis besar.
Dalam upayanya memajukan pendidikan, Al-Jam’iyatul Washliyah kelihatannya bersikap terbuka dan mengambil pelajaran dari mana saja yang dianggap lebih berpengalaman dan berhasil dalam pengelolaan pendidikan. Pada tahun 1934, Al-Jam’iyatul Washliyah mengirim tiga orang pengurusnya: M.Arsyad Talib Lubis, Udin Syamsuddin, dan Nukman Sulaeman untuk mengadakan studi banding ke sekolah Adabiyah, Noormal School dan Diniyah di Sumatera Barat sehubungan dengan upaya reformasi pengelolaan pendidikan Al-Jam’iyatul Washliyah sendiri. Sekalipun mendapat reaksi negatif dari sebagian anggota, reaksi ini muncul terutama karena daerah Minangkabau adalah basis kelompok modernis, sehingga sebagian anggota Al-Jam’iyatul Washliyah merasa keberatan untuk mencontoh sekolah-sekolah Minangkabau. Pada umumnya respon negatif seperti ini datang dari kalangan awam. Secara organisasi, Al-Jam’iyatul Washliyah mengambil kebijakan terbuka untuk belajar dari mana saja.
Kunjugan studi banding itu dianggap sangat penting dan hasil-hasilnya menjadi bahan-bahan diskusi dalam konferensi guru-guru madrasah Al-Jam’iyatul Washliyah masih pada tahun yang sama. Diantara langkah langkah yang diambil setelah konferensi tersebut adalah sebagai berikut:
a.       Pendirian sekolah-sekolah umum berbasis agama;
b.      Pengajaran bahasa Belanda;
c.       Penataan kalender pengajaran;
d.      Pembentukan lembaga Inspektur dan Penilik Pendidikan;
Melihat kemajuan penerbitan buku-buku agam Islam di Sumatera Barat, seorang utusan dikirim ke Bukit Tinggi khusus untuk membeli buku-buku keperluan sekolah Al-Jam’iyatul Washliyah.
Dengan prinsip keterbukannya Al-Jam’iyatul Washliyah membuat kemajuan di bidang pendidikan. Pada tahun 1938 Al-Jam’iyatul Washliyah sudah mengelola madrasah tingkat Aliyah (Qismul Ali) dan juga madrasah pendidikan guru. Di sektor pendidikan umum, dibuka pula HIS berbahasa Belanda di Porsea dan Medan dengan menambahkan pelajaran agama Islam pada kurikulumnya. Pada kongres ke III tahun 1941, Al-Jam’iyatul Washliyah dilaporkan mengelola 242 sekolah dengan jumlah siswa lebih dari 12.000 orang. Sekolah-sekolah ini terdiri atas berbagai jenis: Tajhiziyah, Ibtidaiyah, Tsanawiyah, Qismul Ali (Aliyah), Muallimin, Muallimat, Volkschool, Vervolgschool, H.I.S, dan Schakeschool.
Upaya majelis Studies Fonds mengumpulkan dana beasiswa kelihatannya tidak terlalu sukses. Namun, setidaknya pada tahun 1936 Al-Jam’iyatul Washliyah mengirim Ismail Banda dan Baharuddin Ali untuk studi di Universitas Al Azhar, Kairo, dengan beasiswa. Baharuddin Ali berhasil mencapai diploma Ahliyah, sementara Ismail Banda berhasil menyelesaikan diploma Ahliyah ‘AmAliyah dan juga memperoleh diploma dari Fakultas Ushuluddin Al Azhar. Ismail Banda diklaim sebagai orang pertama yang memperoleh ijazah dari Fakultas tersebut.
Sementara itu Majelis Penerbitan mulai menerbitkan majalah Medan Islam sejak 1933 dengan tiras mencapai 12.500 eksemplar dan menjadi 14.980 ekesmplar di tahun 1940. Majalah lain tebitan organisasi ini adalah Dewan Islam dan Raudhatul Mu’allimin. Secara kumulatif, hingga kongresnya yang ke-3 (1941) telah diterbitkan sejumlah 142.000 eksemplar majalah sebagai media propaganda organisasi ini. Majelis ini juga aktif menerbitkan buku-buku pelajaran agama yang sengaja ditulis dalam bahasa daerah Batak Toba dan Batak Karo untuk kemudian didistribusikan secara cuma-cuma kepada ribuan orang yang berhasil diIslamkan.
Sebagai sebuah organisasi keagamaan, Al-Jam’iyatul Washliyah menjadi rujukan dan tempat bertanya masyarakat Islam tentang berbagai persoalan. Untuk mempermudah pelaksanaan fungsi ini, maka dibentuklah Majelis Fatwa Al-Jam’iyatul Washliyah pada bulan Desember 1933 dengan anggota 15 orang ulama dan pemuka agama. Mereka adalah Haji Ilyas, Haji Muhammad Ismail Lubis, Haji Muhammad Syarif (Qadi Kerajaan); Syekh Haji Muhammad Yunus, Syekh Haji Ja’far Hasan (Guru MIT); Haji A.Malik, Haji Ali Usman, Haji Abdul Jalil, Haji Dahlan, Sulaeman (Guru Madrasah); Abdurrahman Syihab, M. Arsyad Talib Lubis, Yusuf Ahmad Lubis, Suhailuddi dan Abdul Wahab (Al-Jam’iyatul Washliyah).[5]
Penyiaran Islam di daerah Batak Toba dengan melakukan tabligh dan mendirikan sekolah serta madrasah adalah satu aspek yang khas mengenai organisasi ini. Untuk missi khusus ini pada tahun 1934, Al-Jam’iyatul Washliyah sengaja mendirikan cabang di Porsea, salah satu kota di daerah Toba, dimana terdapat penduduk muslim dalam jumlah yang signifikan. Tanah Batak Toba adalah titik awal penyebaran agama Kristen di Sumatera Timur yang sudah berjalan relatif berhasil sejak abad ke-19. Pada umumnya Sir Thomas Raffles dianggap sebagai orang yang pertama sekali menekankan perlunya Kristenisasi daerah Tapanuli, yang dari sudut kepentingan politik kolonial akan berfungsi sebagai daerah pembelah antara Sumatera Barat ada Aceh yang masing-masing sangat kuat Islamnya. Karenanya sejak awal abad ke-19 pemerintah inggris memberikan dukungan terhadap missi Kristen, para pendeta dan kegiatan missi mendapat dukungan dana dan fasilitas yang baik. Kemudia kebijakan ini diikuti oleh Belanda, meskipun pada tataran formal ini selalu ditutupi dengan adanya kebijakan pemerintah terhadap agama-agama.[6]
Pada awal abad ke-20, mayoritas penduduk daerah ini beragama Kristen, sebagian lain menganut agama tradisional, Parbegu, dan hanya sebagian kecil yang memeluk agama Islam. Inti kegiatan Al-Jam’iyatul Washliyah di daerah ini adalah pengIslaman dan pembinaan mereka yang sudah masuk Islam.
Keberhasilan dan kegagalan yang dialami Al-Jam’iyatul Washliyah dalam penyebaran Islam di Toba merupakan ilustrasi menarik tentang persaingan penyiaran agama Islam dan Kristen. Dibanding dengan organisasi-organisasi Islam lain yang mencoba berdakwah di Tanah Batak, Al-Jam’iyatul Washliyah “dipandang sebagai organisasi yang mampu bersaing dengan kalangan missionaris Kristen di daerah tersebut.”[7] Organisasi lain khususnya Muhammadiyah, juga melakukan dakwah di daerah ini, tetapi pada era yang diperbincangkan ini kurang berhasil, karena hambatan bahasa dan kurangnya apresiasi terhadap ada istiadat Batak. Ini berkaitan dengan kenyataan bahwa mayoritas anggota Muhammadiyah pada masa itu adalah penduduk pendatang dari daerah Minangkabau. Bagi Al-Jam’iyatul Washliyah yang memang lahir di Sumatera Timur, masalah ini tidak ada.
Keberhasilan yang diraih organisasi Al-Jam’iyatul Washliyah tentu saja tidak sama sekali sunyi dari tantangan, khususnya dari kalangan Kristen. Kasus-kasus pertentangan Islam-Kristen di tanah Batak Toba. Dewan Islam melaporkan adanya perusakan masjid oleh kelompok kristen di Tarutung, adanya jenazah seorang muslim yang dipaksa dikuburkan secara Kristen, dan seorang tokoh muslim yang dilempari atas anjuran seorang pendeta.[8] Sebagai pihak minoritas di tanah Toba, Al-Jam’iyatul Washliyah biasanya hanya bisa mencatat dan mempublikasikan kejadian-kejadian tersebut sembari mendesak pemerintah mengambil tindakan.
Pada tataran yang lebih ilmiah, terjadi pula polemik-polemik antar umat Islam dan Kristen sebagaimana tercermin dalam publikasi-publikasi yang berafiliasi kepada organisasi-organisasi Islam dan Kristen. Tantangan terhadap Al-Jam’iyatul Washliyah juga datang dari kalangan pemuka adat yang sangat berpengaruh dalam struktur masyarakat Toba. Sebelum diperkenankan mengadakan kegiatan di suatu desa, biasanya para pemuka adat menuntut agar Al-Jam’iyatul Washliyah lebih dahulu mengadakan pesta penghormatan dengan hidangan kepala babi. Dalam menghadapi dilema seperti ini tidak jarang tokoh-tokoh Al-Jam’iyatul Washliyah terpaksa mengambil sikap pragmatis dan strategis: mengalah untuk menang. Untuk izin pendirian sebuah madrasah biasanya mereka akan menyetujui pengadaan hidangan kepala babi asal dikerjakan oleh penduduk yang non-Muslim. Kenyataan bahwa penduduk non-Muslim biasanya bersedia menerima persyaratan tersebut bahwa bagi kalangan adat persoalan yang ada dilihat lebih sebagai masalah adat murni dan bukan masalah agama. Namun Al-Jam’iyatul Washliyah juga melakukan protes terus menerus tentang hal ini, tidak saja kepada perwakilan pemerintah Belanda di Sumatera Timur, tetapi juga kepada Volksraad di Batavia, sampai akhirnya ada ketentuan pemerintah kolonial bahwa Al-Jam’iyatul Washliyah cukup memanfaatkan sapi atau kambing dalam jamuan penghormatan kepada pengetua adat.[9]
Demikianlah berbagai kegiatan dilaksanakan dalam konteks hubungan yang antagonistis dengan pihak Kristen di satu sisi dan dengan pihak pendukung adat dan agama tradisional di sisi lain. Dalam kondisi seperti ini Al-Jam’iyatul Washliyah berhasil mencapai keberhasilan-keberhasilan yang pantas dicatat. Organisasi inilah yang merintis dan kemudian melapangkan jalan dakwah di Tanah Batak setelah sebelumnya demikian terencana dijadikan sebagai lahan Zending Kristen dengan dukungan pemerintah kolonial dan Gereja.
bersambung ke : http://arminapen.blogspot.com/2012/11/motivasi-mahasiswa-memasuki-fakultas_5873.html


[1] Karel A. Steenbrink, “Kata Pengantar,” dalam Chalidjah Hasanuddin, Al-Jam’iyatul Washliyah: Api Dalam Sekam (Bandung: Pustaka,1988), hal.vii.
[2] Karel A Steenbrink, Pesantren Madrasah Sekolah (Jakarta:LP3ES, 1974),hal 78 - 79
[3] Hasanuddin, Al-Jam’iyatul Washliyah, hal 36
[4] Ibid hal.62
[5] Hasanuddi, Op,Cit, hal.77-78
[6] Muller Kruger, Sedjarah Gereja di Indonesia, Jakarta: Gunung Mulia, 1959, hal 97
[7] Deliar Noer, Gerakan Moderen Islam Di Indonesia,  Jakarta, 1982, hal. 266
[8] Pelanggaran terhadap agama Islam, dalam Dewan Islam, no. 68 juni 1939
[9] Hasanuddin, al-Jam’iyatul Washliyah, hal 150

Makalah Arminaven

1. POKOK-POKOK BAHASAN AKHLAK DI SMU
2. PENGERTIAN DAN RUANG LINGKUP PAI DI SLTP SMU
3. POKOK BAHASAN AL-QURAN DI SLTP
4. POKOK BAHASAN MUAMALAH DI SMU
5. Makalah sejarah masuknya islam ke indonesia
6. pemberian SCORE VERIFIKASI DAN STANDAR PENILAIAN PAP DAN PAN 
7. Makalah pokok bahasan aqidah SMP SMA 
8. perkembangan biologis dan perseptual anak
9. pengertian dan sejarah singkats osiologi pendidikan 
10. PANDANGAN islam TENTANG PEMBELAJARAN 
11. GURU DAN ADMINISTRASI PENDIDIKAN 
12. makalah pokok pokok ilmu tajwid dan kandungan alquran 
13. ADMinistrasi PENDIDIKANI 
14. pembuatan KTSP 
15. makalah landasan pengembangan kurikulum 
16. Kumpulan Judul Skripsi Pendidikan Agama Islam 
17. makalah Hadist 
18. masa'ilul fiqhiyah 
19. Makalah JENIS-JENIS SYARAT EVALUASI PENDIDIKAN ISLAM 
20. makalah MPDP SKI
21. POKOK BAHASAN AKHLAK DI SLTP
22. POKOK BAHASAN AL-QURAN DI SMU 
23. POKOK BAHASAN AQIDAH DI SLTP
24. POKOK BAHASAN IBADAHD SLTP SMU
25. tanggung jawab Kepala Sekolah Sebagai Administrator Pendidikan
26. MAKALAH SPI abbasiyahumayyah
27. Makalah_dasar-dasar pendidikan islam
28. Makalah PsikologiUmum
29. makalah SEJARAH kemunduran PERADABAN ISLAM
30. psikologi perkembangan perseptual anak 
31. makalahQ PLS kejar paket ABC
32. Makalah SPI_dinasti abbasiyah
33. objek ijtihad 
34. makalah kapita selekta pendidikan 
35. makalah OBJEK N KEGUNAAN FILSAFAT ISLAM
36. makalah psikologi belajar dan hakikat kejiwaan dalam belajar 
37. makalah ontologi-filsafat
38. makalah partai politik demokrat
39. makalah pengertian dan ruang lingkup pendidikan agama islamMt sMA



Advertisement

2 Response to "MOTIVASI MAHASISWA MEMASUKI FAKULTAS AGAMA ISLAM - BAB II"

This comment has been removed by a blog administrator.

mantap infonya
semoga bermanfaat bagi banyak org
thanks ya

Balas
  • Berkomentarlah dengan sopan dan bijak sesuai dengan isi konten.
  • Komentar yang tidak diperlukan oleh pembaca lain [spam] akan segera dihapus.
  • Apabila artikel yang berjudul "MOTIVASI MAHASISWA MEMASUKI FAKULTAS AGAMA ISLAM - BAB II" ini bermanfaat, share ke jejaring sosial.
Konversi Kode