Banner 468 x 60

Loading...

RADIKALISME DIKALANGAN GENERASI MUDA ISLAM

Advertisement
Oleh: H. Abdul Karim Hasbullah, Lc

Pendahuluan

gerakan radikalisme global bukanlah fenomena yg baru. Ini adalah fenomena sosial yang sudah sejak lama eksis. Gerakan ini sudah lahir sejak globalisasi dimulai ribuan tahun yang lalu., sebenarnya Gerakan radikal ini tidak bisa kita kaitkan dengan satu agama akan tetapi , secara tidak langsung agama sudah tidak bisa terlepas begitu saja dari bentuk-bentuk radikalisme yang berujung pada anarkisme dan kekerasan kanyak pelakunya yang memberi pengakuan tindakkanya karena dorongan keagamam yang pada ahirnaya terorisme memberi stigma kepada agama-agama yang dipeluk oleh terorisme. Dalam hal ini Frans Magnis Suseno (Jawa Pos, 2002:1) menyatakan, “Siapa pun perlu menyadari bahwa sebutan teroris atau radikal memang tidak terkait dengan ajaran suatu agama, tetapi menyangkut prilaku keras oleh person atau kelompok.,sekalipun banyak kita jumpai informasi dari berbagai media yang memberitakan bahwa Praktek-praktek kekerasan yang dilakukan sekelompok dengan membawa simbol-simbol agama, jelasnya agam a tidak pernah mngajarkan para umatnya untuk melaksanakn tidakan anarkis yang dilahirkan dari radikalisme. Untuk membersihkan stigma tersebut disinilah perlunya peran agama unutuk memberikan pehaman agama terutama dikalangan pemuda volumenya mestinya ditambah, karena banyak pelaku radikal atau teroris dari kalangan pemuda ini di buktikan dengan catatan Lembaga Kajian Islam dan Perdamaian (LaKIP);

Pada tahun 2007, dua orang remaja yaitu Isa Anshori (16) dan Nur Fauzan (19) ditangkap Densus 88 karena diduga ikut terlibat dalam menyembunyikan Taufik Kondang, salah seorang anggota jaringan teroris komplotan Abu Dujana.
Tahun 2009 (17 Juli 2009) pelaku bom di JW Marriot adalah Dani Dwi Permana (18) dan Ritz Charlton Nana Ikhwan Maulana (28)
Tahun 2011 (25 Januari 2011), Arga Wiratama (17), Joko Lelono, Nugroho Budi, Tri Budi Santoso, Yuda Anggoro. Roki Apris Dianto dibekuk oleh Densus 88 bersama ketujuh orang lainnya dalam kasus teror bom di wilayah Klaten, Sleman, dan Yogyakarta.

Membaca hasil penelitian LaKIP seakan-akan kita tercengang. Pasalnya, gerakan radikalisme telah menyusut anak muda muslim. Padahal penelitian serupa telah dilakukan oleh Martin van Bruinessen, peneliti asal Belanda dalam tulisan Gerakan Sempalan di Kalangan Umat Islam Indonesia: Latar Belakang Sosio-Budaya untuk kalangan umat Islam

Timbulnya pemahaman agama yang radikal di kalangan anak muda mendorong ortodoksi untuk setiap saat memikirkan kembali relevansi ajaran agama dalam masyarakat kontemporet dan untuk menjawab atas masalah dan tantangan baru yang terus timbul.
Stigma Radikalisme Islam

Yang dimaksud dengan radikalisme adalah gerakan yang berpandangan kolot dan sering menggunakan kekerasan dalam mengajarkan keyakinan mereka.2 Sementara Islam merupakan agama kedamaian yang mengajarkan sikap berdamai dan mencari perdamaian.3 Islam tidak pernah membenarkan praktek penggunaan kekerasan dalam menyebarkan agama, paham keagamaan serta paham politik.Tetapi memang tidak bisa dibantah bahwa dalam perjalanan sejarahnya terdapat kelompok-kelompok Islam tertentu yang menggunakan jalan kekerasan untuk mencapai tujuan politis atau mempertahankan paham keagamaannya secara kaku yang dalam bahasa peradaban global sering disebut kaum radikalisme Islam. Istilah radikalisme untuk menyebut kelompok garis keras dipandang lebih tepat ketimbang fundamentalisme karena fundamentalisme sendiri memimiliki makna yang interpretable. Dalam tradisi pemikiran teologi keagamaan, fundamentalisme merupakan gerakan untuk mengembalikan seluruh perilaku dalam tatanan kehidupan umat Islam kepada Al-Qur’an dan Al-Hadits.5 Sebutan fundamentalis memang terkadang bermaksud untuk menunjuk kelompok pengembali (revivalis) Islam. Tetapi terkadang istilah fundamentalis juga ditujukan untuk menyebut gerakan radikalisme Islam. Dengan demikian penulis lebih cenderung menggunakan istilah radikalisme dari pada fundamentalisme karena pengertian fundamentalisme dapat memiliki arti-arti lain yang terkadang mengkaburkan makna yang dimaksudkan sedang radikalisme dipandang lebih jelas makna yang ditunjuknya yaitu gerakan yang menggunakan kekerasan untuk mencapai target politik yang ditopang oleh sentimen atau emosi keagamaan.

Sebutan untuk memberikan label bagi gerakan radikalisme bagi kelompok Islam garis keras juga bermacam-macam seperti ekstrim kanan, fundamentalis, militan dan sebagainya. M.A. Shaban menyebut aliran garis keras (radikalisme) dengan sebutan neo-khawarij.8 Sedangkan Harun Nasution9 menyebutnya dengan sebutan khawarij abad ke dua puluh (abad 21-pen) karena memang jalan yang ditempuh untuk mencapai tujuan adalah dengan menggunakan kekerasan sebagaimana dilakukan khawarij pada masa pascaTahkim. Islam sebagai agama damai sesungguhnya tidak membenarkan adanya praktek kekerasan. Cara-cara radikal untuk mencapai tujuan politis atau mempertahankan apa yang dianggap sakral bukanlah caracara yang Islami. Di dalam tradisi peradaban Islam sendiri juga tidak dikenal adanya label radikalisme.
Istilah radikalisme Islam berasal dari pers barat untuk menunjuk gerakan Islam garis keras (ekstrim, fundamentalis, militan).10 Istilah fundamentalisme dan radikalisme dalam perspektif Barat sering dikaitkan dengan sikap ekstrim, kolot, stagnasi, konservatid, anti-Barat, dan keras dalam mempertahankan pendapat bahkan dengan kekerasan fisik. Penggunaan istilah radikalisme atau fundamentalisme bagi umat Islam sebenarnya tidak tepat karena gerakan radikalisme itu tidak terjadi di setiap negeri Muslim dan tidak dapat ditimpakan kepada Islam. Radikalisme merupakan gerakan yang dilakukan oleh individu atau kelompok yang dirugikan oleh fenomena sosio-politik dan sosiohistoris.

Gejala praktek kekerasan yang dilakukan oleh sekelompok umat Islam itu, secara historis-sosiologis, lebih tepat sebagai gejala sosial-politik ketimbang gejala keagamaan meskipun dengan mengibarkan panji-panji keagamaan. Fenomena radikalisme yang dilakukan oleh sebagian kalangan umat Islam, oleh pers Barat dibesarbesarkan, sehingga menjadi wacana internasional dan terciptalah opini publik bahwa Islam itu mengerikan dan penuh dengan kekerasan.
Akibatnyam tidak jarang image-image negatif banyak dialamatkan kepada Islam sehingga umat Islam terpojokkan sebagai umat yang perlu dicurigai. Hal yang demikian terjadi karena masyarakat barat mampu menguasai pers yang dijadikan instrumen yang kuat guna memproyeksikan kultur dominan dari peradaban global. Apa yang ditangkap masyarakat dunia adalah apa yang didefinisikan dalam media-media Barat. Label Islam untuk menyebut gerakan fundamentalis sangat menyenangkan bagi pers Barat ketimbang label Tamil di Srilangka, militan Hindu di India, IRA (kelompok bersenjata Irlandia Utara), militan Yahudi sayap kanan, sekte kebatinan di Jepang ataupun bahkan musuh lamanya, komunis-marxis yang tidak jarang menggunakan jalan kekerasan sebagai solusi penyelesaian masalah.

Karena terlalu mengkaitkan kata-kata radikalisme, fundamentalis atau gerakan militan dengan Islam maka seringkali media Barat mengabaikan perkembangan praktek kekerasan yang ditopang keyakinan keagamaan yang dilakukan oleh kalangan non- Islam ataupun yang ditopang oleh ideologi “kiri”. Contoh yang sangat jelas adalah aksi tutup mulut para elit politik barat atau aksi bicara dalam kepura-puraan ketika malihat praktek kekerasan yang dilakukan oleh ekstrimis Yahudi ataupun sedadu Israel atas orang-orang Arab Palestina. Apa yang dilakukan oleh kelompok-kelompok pelaku kekerasan ini secara faktual sama dengan apa yang dilakukan oleh kelompok pelaku garis keras “radikalisme Islam”. Tetapi sebutan radikalisme lebih kental ditujukan kepada gerakan Islam. Hal inilah yang ditolak oleh gerakan negara-negara OKI dalam pertemuannya di Kuala Lumpur Malaysia tanggal 1–3 April 2002.

Realitas historis-sosiologis ini adalah bukti betapa Barat menggunakan standar bganda dan bersikap tidak adil terhadap Islam. Ketika masjid dan Mullah dilihat sebagai simbul radikalisme atau ketika gejala-gejala kultural Muslim diproyeksikan sebagai bentuk fanatisme dan ekstrimisme maka terjadilah pengekangan dan pemenjaraan peradaban Islam. masyarakat Barat telah memberikan, klaim peradaban atas Islam sementara proses peradaban Islam sedang membentuk jati dirinya. Hal yang demikian tidak berarti pembenaran perilaku radikalisme yang dilakukan umat Islam karena apapun alasannya praktek kekerasan merupakan penggaran norma keagamaan sekaligus pelecehan kemanusiaan.

Dengan demikian maka jelas bahwa label radikalisme yang dialamatkan oleh Barat kepada Islam merupakan pelecahan agama karena di dalam Islam tidak ada perintah menuju kekerasan. Istilah salah kaprah itu sesungguhnya tidak perlu terjadi jika barat mau mengkaji Islam secara objektif bahwa Islam normatifterkadang tidak diimplementasikan oleh sekelompok Muslim dalam konteks historissosiologis.
Islam berbeda dengan perilaku Muslim, artinya kebutralan (radikalisme) yang dilakukan oleh sekelompok Muslim tidak dapat dijadikan alasan untuk menjadikan Islam sebagai biang keladi radikalisme. Sebaliknya, kelompok-sekolompok kecil umat Islam yang fanatik dan mengarah kepada benturan dan kekerasan juga menjadi bahaya besar bagi masa depan peradaban manusia. Gerakan radikalisme yang dilakukan oleh sekelompok orang, termasuk Muslim, merupakan kanker rohani yang kronis yang mengancam manusia dan kemanusiaan. Di luar itu semua, praktek-praktek arogansi Barat dan hegemoninya atas dunia islam harus juga disadari sebagai factor yang dapat menimbulkan reaksi dalam bentuk radikalisme anti-Barat yang dilakukan oleh sebagian komunitas Muslim.

Faktor-Faktor Penyebab Munculnya Gerakan Radikalisme

Gerakan radikalisme sesungguhnya bukan sebuah gerakan yang muncul begitu saja tetapi memiliki latar belakang yang sekaligus menjadi faktor pendorong munculnya gerakan radikalisme. Diantarafaktor-faktor itu adalah :

Pertama, faktor-faktor sosial-politik. Gejala kekerasan “agama” lebih tepat dilihat sebagai gejala sosial-politik daripada gejala keagamaan. Gerakan yang secara salah kaparah oleh Barat disebut sebagai radikalisme Islam itu lebih tepat dilihat akar permasalahannya dari sudut konteks sosial-politik dalam kerangka historisitas manusia yang ada di masyarakat. Sebagaimana diungkapkan Azyumardi Azra bahwa memburuknya posisi negara-negara Muslim dalam konflik utara-selatan menjadi penopong utama munculnya radikalisme. Secara historis kita dapat melihat bahwa konflik-konflik yang ditimbulkan oleh kalangan radikal dengan seperangkat alat kekerasannya dalam menentang dan membenturkan diri dengan kelompok lain ternyata lebih berakar pada masalah sosial-politik. Dalam hal ini kaum radikalisme memandang fakta histories bahwa umat Islam tidak diuntungkan oleh peradaban global sehingga menimbulkan perlawanan terhadap kekuatan yang mendominasi. Dengan membawa bahasa dan simbol serta slogan-slogan agama agama karena sebagian perilaku mereka berakar pada interpretasi agama
dalam melihat fenomena historis. Karena dilihatnya terjadi banyak penyimpangan dan ketimpangan sosial yang merugikan komunitas Muslim maka terjadilah gerakan radikalisme yang ditopang oleh
sentimen dan emosi keagamaan.

Kedua, faktor emosi keagamaan. Harus diakui bahwa salah
satu penyebab gerakan radikalisme adalah faktor sentimen keagamaan, termasuk di dalamnya adalah solidaritas keagamaan untuk kawan yang tertindas oleh kekuatan tertentu. Tetapi hal ini lebih tepat dikatakan sebagai faktor emosi keagamaannya, dan bukan agama (wahyu suciyang absolut) walalupun gerakan radikalisme selalu mengibarkanbendera dan simbol agama seperti dalih membela agama, jihad dan mati stahid. Dalam konteks ini yang dimaksud dengan emosi keagamaan adalah agama sebagai pemahaman realitas yang sifatnya interpretatif. Jadi sifatnya nisbi dan subjektif.

Ketiga, faktor kultural ini juga memiliki andil yang cukup besar yang melatarbelakangi munculnya radikalisme. Hal ini wajar
karena memang secara kultural, sebagaimana diungkapkan Musa Asy’ari 12 bahwa di dalam masyarakat selalu diketemukan usaha untuk melepaskan diri dari jeratan jaring-jaring kebudayaan tertentu yang dianggap tidak sesuai. Sedangkan yang dimaksud faktor kultural di sini adalah sebagai anti tesa terhadap budaya sekularisme. Budaya Barat merupakan sumber sekularisme yang dianggab sebagai musuh yang harus dihilangkan dari bummi. Sedangkan fakta sejarahmemperlihatkan adanya dominasi Barat dari berbagai aspeknya atas negeri-negeri dan budaya Muslim. Peradaban barat sekarang in imerupakan ekspresi dominan dan universal umat manusia. Barat telah dengan sengaja melakukan proses marjinalisasi selurh sendi-sendi kehidupan Muslim sehingga umat Islam menjadi terbelakang dan tertindas. Barat, dengan sekularismenya, sudah dianggap sebagai bangsa yang mengotori budaya-budaya bangsa Timur dan Islam, juga dianggap bahaya terbesar dari keberlangsungan
moralitas Islam. Keempat, faktor ideologis anti westernisme. Westernisme merupakan suatu pemikiran yang membahayakan Muslim dalam mengapplikasikan syari’at Islam. Sehingga simbol-simbol Barat harus dihancurkan demi penegakan syarri’at Islam.

Walaupun motivasi dan gerakan anti Barat tidak bisadisalahkan dengan alasan keyakinankeagamaan tetapi jalan kekerasan yang ditempuh kaum radikalisme
justru menunjukkan ketidakmampuan mereka dalam memposisikan diri sebagai pesaing dalam budaya dan peradaban. Kelima, faktor kebijakan pemerintah. Ketidakmampuanpemerintahn di negara-negara Islam untuk bertindak memperbaiki situasi atas berkembangnya frustasi dan kemarahan sebagian umat Islam disebabkan dominasi ideologi, militer maupun ekonomi dari negera-negara besar. Dalam hal ini elit-elit pemerintah di negeri-negeri Muslim belum atau kurang dapat mencari akar yang menjadi penyebab munculnya tindak kekerasan (radikalisme) sehingga tidak dapat mengatasi problematika sosial yang dihadapi umat. Di samping itu, faktor media massa (pers) Barat yang selalu memojokkan umat Islam juga menjadi faktor munculnya reaksi dengan kekerasan yang dilakukan oleh umat Islam. Propaganda-propaganda lewat pers memang memiliki kekuatan dahsyat dan sangat sulit untuk\ ditangkis sehingga sebagian “ekstrim” yaitu perilaku radikal sebagai reaksi atas apa yang ditimpakan kepada komunitas Muslim.

Refleksi

Memberikan solusi bagi permasalahan historis-sosiologis tidaklah mudah, terlebih-lebih jika permasalahan yang ada itu ditopang oleh emosi keagamaan. Namun demikian, dalam melihat fenomena
historis-sosiologis mengenai muncul dan berkembangnya gerakan radikalisme ini ada beberapa catatan yang mungkin terjadi solusi alternatif. Gerakan-gerakan radikalisme yang dilakukan oleh sebagian kelompok umat Islam sesungguhnya mencerminkan paduan faktorinternal dan eksternal. Oleh karenanya perlu dicari akar permasalahan dari dua sisi ini.

Pertama, faktor internal yaitu berupa emosi keagamaan yang berdasarkan interpretasi ajaran agama. Dalam hal ini, jika gerakan radikalisme berbasis pada interpretasi ajaran agama maka jalan yang perlu ditempuh untuk meminimalisir gerakan radikalisme agama (khususnya Islam) harus mulai dengan rekontruksi terhadap pemahaman agama, dari yang bersifar simbolik-normatif menujupemahaman yang etik, substansial dan universal. Namun hal ini bukan hal yang mudah untuk dilakukan karena memerlukan upaya yang menyeluruh dan kompleks. Mengubah pola pikir dan sikap mental adalah perbuatan yang amat sulit dilakukan terlebih-lebih jika pola pikir sebelumnya sudah ditopang dengan akidah (keyakinan) keagamaan yang kuat dan mengakar.

Kedua, faktor eksternal. Pengembalian hak-hak politik umat Islam yang selama ini di”penjara” oleh Barat, seperti dihentikannya perang media atas Islam yang menjadikan umat Islam terpojok oleh propaganda media Barat, pengembalian wilayah teritori milik komunitas umat Islam yang “dijajah” Barat atau sekutu-sekutunya, dihentikannya penjajahan dan dominasi ekonomi, kultur maupun militer yang dilakukan oleh barat atas negeri-negeri Muslim yang dianggap militan. Pengembalian hak-hak Muslim merupakan syarat utama dalam meminimalisisr gerakan radikalisme. Di samping itu, faktor kebijakan pemerintah negara-negara Muslim juga memiliki peran yang cukup penting dalam memperkecil gerakan radikalisme. Bahwa gerakan radikalisme yang dilakukan oleh sekelompok Muslim merupakan simbol dari ketidakpercayaan terhadap kekuatan dan kemauan para pemegang pemerintahan negerinegeri Muslim, serta sebagai simbol ketidakberdayaan mereka dalamdiplomasi internasional (karena sudah terpinggirkan, termajinalkan,terjajah). Penanganan yang kaku oleh pemerintah terhadap gerakan radikalisme bukan saja tidak menyelesaikan masalah tetapi juga menyebabkan gerakan radikalisme akan terus berlangsung di samping tentunya menimbulkan permasalahan yang dapat memicu radikalisme baru. Ketika penguasa tidak memahami fenomena masyarakatnya, ketika kecurigaan dan kekerasan dijadikan alat untuk memberantas radikalisme maka radiklaisme tidak akan hilang dari fenomena historis. Radikalisme tidak dapat dilawan dengan kekerasan. Radikalisme yang ilakukan oleh sekelompok Muslim memiliki ide (ideologi politik dan ideologi keagamaan), di samping ditopang oleh emosi dan solidaritas keagamaan yang sangat kuat. Karenany maka diperlukan upaya persuasif, kedemawaan dan rasa persaudaraan dari para penguasa negeri-negeri Muslim agar gerakan yang lebih radikal lagi bisa dicegah.

Penutup

1. Praktek kekerasan (radikalisme) yang dilakukan oleh sekelompok umat Islam tidak dapat dialamatkan kepada Islam sehingga propaganda media Barat yang memojokkan Islam dan umat Islamsecara umum tidak dapat diterima. Islam tidak mengajarkan radikalisme, tetapi perilaku kekerasan sekelompok umat Islam atas simbol-simbol Barat memang merupakan realitas historis-sosiologis yang dimanfaatkan media pers Barat memang merupakan realitas historis-sosiologis yang dimanfaatkan media pers Barat untuk memberi label dan mengkampanyekan anti-radikalisme Islam.
2. Identitas keislaman (kesadaran umum sebagai Muslim) memang menjadi identitas yang tepat dan referensi yang efektif bagi gerakan radikalisme. Tetapi faktor eksternal yaitu dominasi dan kesewenang-wenangan barat atas negeri-negeri Muslim merupakan faktor yang lebih dominan yang memunculkan radikalisme Muslim sebagai reaksi. Jadi jelas, bahwa radikalisme muncul dari kebanggan (identitas ke-Islaman) yanga terluka (oleh Barat), keluhan (kaum Muslim tertindas yang tidak diperhatikan) dan keputusasaan karena ketidakberdayaan.
3. Solusi-solusi yang muncul harus dapat mencakup kompleksitas permasalahan yang kesemuanya harus berangkat dari kearifan para pemimpin Barat dan juga negeri-negeri Muslim untuk mampu membaca fenomena perkembangan zaman yang mencerminkan aspirasi dari kalangan Muslim. Kondisi buruk sosial-politik dan ekonomi telah menjadikan umat Islam semakin termajinalkan sudah seharusnya dijadikan landasan awal dalam pemecahan masalahradikalisme. Jika tidak maka “Islam” yang damai akan termanifestasi dalam bentuk radikalisme yang penuh kekerasan.



Makalah Arminaven
1. POKOK-POKOK BAHASAN AKHLAK DI SMU
2. PENGERTIAN DAN RUANG LINGKUP PAI DI SLTP SMU
3. POKOK BAHASAN AL-QURAN DI SLTP
4. POKOK BAHASAN MUAMALAH DI SMU
5. Makalah sejarah masuknya islam ke indonesia
6. pemberian SCORE VERIFIKASI DAN STANDAR PENILAIAN PAP DAN PAN 
7. Makalah pokok bahasan aqidah SMP SMA 
8. perkembangan biologis dan perseptual anak
9. pengertian dan sejarah singkats osiologi pendidikan 
10. PANDANGAN islam TENTANG PEMBELAJARAN 
11. GURU DAN ADMINISTRASI PENDIDIKAN 
12. makalah pokok pokok ilmu tajwid dan kandungan alquran 
13. ADMinistrasi PENDIDIKANI 
14. pembuatan KTSP 
15. makalah landasan pengembangan kurikulum 
16. Kumpulan Judul Skripsi Pendidikan Agama Islam 
17. makalah Hadist 
18. masa'ilul fiqhiyah 
19. Makalah JENIS-JENIS SYARAT EVALUASI PENDIDIKAN ISLAM 
20. makalah MPDP SKI
21. POKOK BAHASAN AKHLAK DI SLTP
22. POKOK BAHASAN AL-QURAN DI SMU 
23. POKOK BAHASAN AQIDAH DI SLTP
24. POKOK BAHASAN IBADAHD SLTP SMU
25. tanggung jawab Kepala Sekolah Sebagai Administrator Pendidikan
26. MAKALAH SPI abbasiyahumayyah
27. Makalah_dasar-dasar pendidikan islam
28. Makalah PsikologiUmum
29. makalah SEJARAH kemunduran PERADABAN ISLAM
30. psikologi perkembangan perseptual anak 
31. makalahQ PLS kejar paket ABC
32. Makalah SPI_dinasti abbasiyah
33. objek ijtihad 
34. makalah kapita selekta pendidikan 
35. makalah OBJEK N KEGUNAAN FILSAFAT ISLAM
36. makalah psikologi belajar dan hakikat kejiwaan dalam belajar 
37. makalah ontologi-filsafat
38. makalah partai politik demokrat
39. makalah pengertian dan ruang lingkup pendidikan agama islamMt sMA


Advertisement

1 Response to "RADIKALISME DIKALANGAN GENERASI MUDA ISLAM"

  • Berkomentarlah dengan sopan dan bijak sesuai dengan isi konten.
  • Komentar yang tidak diperlukan oleh pembaca lain [spam] akan segera dihapus.
  • Apabila artikel yang berjudul "RADIKALISME DIKALANGAN GENERASI MUDA ISLAM" ini bermanfaat, share ke jejaring sosial.
Konversi Kode