6/17/2011

Pemberian score, verifikasi dan Standar penilaian (pap dan pan)

Pendahuluan
A. Pengertian dan Teknik-Teknik Pemberian Skor


Sekilas info:
sekedar berbagi ebook tentang komputer, monggo di download:

Pada hakikatnya pemberian skor (scoring) adalah proses pengubahan jawaban instrumen menjadi angka-angka yang merupakan nilai kuantitatif dari suatu jawaban terhadap item dalam instrumen. Angka-angka hasil penilaian selanjutnya diproses menjadi nilai-nilai (grade).
Skor adalah hasil pekerjaan menyekor (memberikan angka) yang diperoleh dari angka-angka dar setiap butir soal yang telah di jawab oleh testee dengan benar, dengan mempertimbangkan bobot jawaban betulnya.
Cara pemberian skor terhadap hasil tes hasil belajar pada umumnya disesuaikan dengan bentuk soal yang dikeluarkan dalam tes tersebut, tes uraian (essay) atau tes obyektif (objektive test).

1. Pemberian Skor pada Tes Uraian

Pada tes uraian, pemberian skor didasarkan pada bobot (weight) yang diberikan pada setiap butir soal, didasarkan dan disesuaikan dengan tingkat kesulitan dari soal tersebut dan atau banyak sedikitnya unsur yang terdapat dalam jawaban yang dianggap paling benar.

2. .Pemberian Skor pada Tes Obyektif

Pemberian skor pada tes obyektif pada umumnya digunakan sistem denda.Untuk soal obyektif bentuk true-false misalnya, setiap item diberi skor maksimal 1 (satu). Apabila testee menjawab benar maka diberikan skor 1 dan apabila salah maka diberikan skor 0.
Cara menghitung skor terakhir dari seluruh item bentuk true-false, dapat digunakan dua macam rumus yaitu : Rumus yang memperhitungkan denda dan rumus yang mengabaikan atau meniadakan denda. Penggunaan rumus-rumus tersebut tergantung dari kebijakan tester.
Rumus skor akhir dengan memperhitungkan denda adalah sebagai berikut :
Keterangan :
S = Skor yang sedang di cari
R = (Right=Betul) Jumlah jawaban betul
W = (Wrong=Salah) Jumlah jawaban salah
O = Option alternative (kemungkinan jawaban), dalam tes obyektif bentuk true-false hanya ada dua kemungkinan ”benar” dan ”salah”
1 = Bilangan konstan (bilangan tetap)
Adapun rumus skor akhir yang tidak memperhitungkan denda adalah sebagai berikut :
S = R
Keterangan :
S = Skor yang dicari
R = Jumlah jawaban betul
Yang perlu diperhatikan pada tes obyektif adalah karena berbentuk mutiple choice maka masing-masing item soal memiliki derajat atau tingkat kesulitan masing-masing yang berbeda, jadi bobot jawaban yang benar belum tentu memiliki skor 1, melainkan bisa juga berbobot 1 ½ , 2 ½, 5 dan sebagainya. Dalam hal ini yang dapat menentukan bobot soal adalah orang yang paling tahu dengan mengenai derajat kesulitan soal tersebut yaitu sebaiknya adalah pembuat soal itu sendiri atau tester.


B. Teknik Pengolahan Dan Pengkonversian Skor Menjadi Nilai


Skor adalah hasil pekerjaan menyekor (memberikan angka) yang diperoleh dari penjumlahan angka-angka dalam setiap butir soal yang di jawab dengan benar oleh testee, dan memperhitungkan bobot jawaban, sedangkan nilai adalah angka atau huruf yang merupakan hasil konversi (rubahan) dari penjumlahan skor yang disesuaikan pengaturannya dengan standar tertentu yang pada dasarnya merupakan lambang kemampuan testee terhadap materi atau bahan yang diteskan.
Dari penjelasan diatas dapat dipahami bahwa untuk mendapatkan nilai, maka skor-skor yang telah didapat masih merupakan skor mentah dan perlu diolah dan dikonversikan sehingga skor dapat berubah menjadi nilai (menjadi skor yang sifatnya baku atau standar (Standard Score)).

1. Pengolahan dan Pengubahan Skor Mentah Menjadi Nilai Standard (Standard Score)

Ada dua hal yang perlu diperhatikan dalam pengolahan dan pengubahan skor menjadi skor stdandard atau nilai yaitu :

a. Dalam pengolahan dan pengubahan skor menjadi skor standard atau nilai terdapat dua cara yang dapat ditempuh yaitu :

1) Pengolahan dan pengubahan skor mentah menjadi nilai dilakukan dengan mengacu pada kriterium (Criterion) atau sering juga disebut dengan patokan. Cara pertama ini sering dikenal dengan istilah criterion referenced evaluation. Di dunia pendidikan Indonesia dikenal dengan istilah Penilain Acuan Patokan (PAP) ada juga yang mengatakan dengan istilah Standar Mutlak.

2) Pengolahan dan pengubahan skor mentah menjadi nilai dengan mengacu pada norma atau kelompok. Cara kedua ini dikenal dengan istilah norm referenced evaluation. Di dalam dunia pendidikan Indonesia dikenal dengan istilah Penilaian Acuan Norma (PAN)

b. Pengolahan dan pengubahan skor mentah menjadi nilai dengan berbagai macam skala, misalnya : skala 5 (Stanfive), yaitu nilai standar berskala lima yang dikenal dengan istilah nilai huruf A, B, C, D dan F. Skala sembilan (Stanine) yaitu nilai standar berskala sembilan dimana rentang nilainya mulai dari 1 sampai dengan 9 (tidak ada nilai =0 dan >10), skala sebelas (standard eleven/ eleven points scale) rentang nilai mulai dari 0 sampai dengan 10, z score (nilai standar z), dan T score (nilai standar T).

Dalam pembahasan kali ini akan dibahas mengenai pengolahan hasil belajar dengan acuan patokan dan acuan norma.

1. Penilaian Acuan Patokan (PAP)

Penilaian Acuan Patokan (criterion referenced evaluation) yang dikenal juga dengan standar mutlak berusaha menafsirkan hasil tes yang diperoleh siswa dengan membandingkannya dengan patokan yang telah ditetapkan. Sebelum hasil tes diperoleh atau bahkan sebelum kegiatan pengajaran dilakukan, patokan yang akan dipergunakan untuk menentukan kelulusan harus sudah ditetapkan.

Standar atau patokan tersebut memuat ketentuan-ketentuan yang dipergunakan sebagai batas-batas penentuan kelulusan testee atau batas pemberian nilai pada testee. Jika skor yang diperoleh oleh testee memenuhi batas minimal maka testee dinyatakan telah memenuhi tingkat penguasaan minimal terhadap materi yang disampaikan dan sebaliknya jika testee belum bisa memenuhi batas minimal yang ditentukan maka testee dianggap belum “lulus” atau belum menguasai materi. Karena batasan-batasan tersebut bersifat mutlak/ pasti maka hasil yang diperoleh tidak dapat di tawar lagi.
Berhubung standar penilaian ditentukan secara mutlak, banyaknya testee yang memperoleh nilai tinggi atau jumlah kelulusan testee banyak akan mencerminkan penguasaannya terhadap materi yang disampaikan.Pengolahan skor mentah menjadi nilai dilakukan dengan menempuh langkah-langkah sebagai berikut :

a) Menggabungkan skor dari berbagai sumber penilaian untuk memperolah skor akhir.
b) Menghitung skor minimum penguasaan tuntas dengan menerapkan prosentase Batas Minimal Penguasaan (BMP).
c) Menentukan tabel konversi

2. Penilaian Acuan Norma (PAN)

Penilaian Acuan Norma (Norm Referenced Evaluation) dikenal pula dengan Standar Relatif atau Norma Kelompok. Pendekatan penilaian ini menafsirkan hasil tes yang diperoleh testee dengan membandingkan dengan hasil tes dari testee lain dalam kelompoknya. Alat pembanding tersebut yang menjadi dasar standar kelulusan dan pemberian nilai ditentukan berdasarkan skor yang diperoleh testee dalam satu kelompok. Dengan demikian, standar kelulusan baru daat ditentukan setelah diperoleh skor dari para peserta testee.
Hal ini berarti setiap kelompok mempunyai standar masing-masing dan standar satu kelompok tidak dapat dipergunakan sebagai standar kelompok yang lain. Standar dari hasil tes sebelumnya pun tidak dapat dipergunakan sebagai standar sehingga setiap memperoleh hasil tes harus dibuat norma yang baru.
Dasar pemikiran dari penggunaan standar PAN adalah adanya asumsi bahwa di setiap populasi yang heterogen terdapat siswa dengan kelompok baik, kelompok sedang dan kelompok kurang.
Pengolahan skor dengan Penilaian Acuan Norma (PAN) mengharuskan kita menghitung dengan statistik. Perhitungan dilakukan atas skor akhir (penggabungan berbagai sumber skor),

Kelemahan sistem PAN adalah dengan tes apapun dalam kelompok apapun dan dengan dasar prestasi yang bagaimanapun, pemberian nilai dengan sistem ini selalu dapat dilakukan. Karena itu penggunaan sistem PAN dapat dilakukan dengan baik apabila memenuhi syarat yang mendasari kurva normal, yaitu :
a. Skor nilai terpencar atau dapat dianggap terpencar sesuai dengan pencaran kurva normal
b. Jumlah yang dinilai minimal 50 orang atau sebaiknya 100 orang ke atas.


C. Perbedaan Pendekatan PAP dan PAN

Penilaian dengan pendekatan PAP dan PAN merupakan dua pendekatan yang berbeda atau bertentangan. Adanya perbedaan ini menyebabkan kita harus mengetahui dan memahami karakteristik dari kedua pendekatan tersebut.

Latar Belakang Filsafat

Dianggap sebagai filsafat lama/ tradisional (the superiority of heredity) bahwa kemampuan belajar suatu kelompok (besar) akan menyebar secara acak, sehingga bila dites hasilnya berupa kurva normal. Artinya bagian terbesar siswa akan berada di sekitar rata-rata, hanya sedikit yang bernilai bagus atau jelek. Dengan ini seakan-akan nasib kelompok ditentukan harus selalu begitu.
Dipandang sebagai filsafat baru dalam pengukuran prestasi yang didasarkan pada faham demokratis dan paham yang mementingkan lingkungan dan kondisi belajar. Artinya, setiap siswa memiliki kesempatan yang sama untuk meraih prestasi setinggi mungkin asal diberikan kesempatan belajar dan bimbingan yang sesuai dengan kondisi masing-masing. Jadi, masalahnya terletak pada kualitas pengajaran yang diberikan guru. Filsafat ini dikembangkan dalam teori belajar tuntas (msatery learning theory)
Tujuan Penggunaan
Mengklasifikasi dan menen- tukan peringkat siswa di antara anggota kelompoknya tanpa mengaitkannya dengan tujuan yang harus dicapai sehingga siswa yang dinyatakan sebagai peringkat pertama mungkin saja hanya menguasai 60% dari tujuan pelajaran.

Standar Penilaian

Standar relatif, sebab acuannya adalah kelompok berbeda kelompok akan berbeda pula standarnya. Akibatnya, nilai A misalnya akan sama dengan nilai C pada kelompok lain yang berprestasi tinggi.
Standar absolut, artinya standar penilaian tidak dipengaruhi dan tidak ditentukan oleh prestasi kelompok. Sebab standar telah ditentukan. Oleh karena itu, pada setiap kelompok yang paralel akan sama mutunya.

Acuan Penilaian Prestasi

Hasil yang dicapai anggota kelompok tidak mempedulikan baik atau buruk. Karenanya PAN disebut pula acuan apa adanya. Inilah yang mengakibatkan mutu nilai antar kelompok tidak sama. Nilai siswa dibandingkan dengan angka rata-rata dan standar deviasi.
Guru telah menentukan batas minimal keberhasilan belajar siswa (batas lulus) sesuai dengan TIK misalnya 60/6. Artinya, batas lulus atau presentase pencapaian adalah 60%.
Cara Perhitungan
Menggunakan statistik yang cukup kompleks dan beberapa sifat kurva normal.
Menggunakan perhitungan persentase atau rumus-rumus sederhana.
Pemanfaatan hasil

PAN antara lain dimanfaatkan dalam :
a) Mengklasifikasi siswa dalam kelompoknya.
b) Menetukan peringkat siswa dalam grupnya.
c) Menyeleksi siswa berdasar- kan prestasi apa adanya dan pembanding anggota kelompoknya.

PAP antara lain dimanfaatkan dalam :
a) Penentuan prestasi siswa dalam mencapai tujuan pengajaran.
b) Menyeleksi siswa atas dasar kualitas prestasi.
c) Mengukur keefektifan pengajaran (metode, teknik, pemilihan bahan,penggunaan alat, dsb.)
d) Umpan balik bagi perbaikan pengajaran.
e) Mengetahui kelamahan/ kesulitan siswa untuk pengajaran remidial.
Jenis Tes

PAN digunakan pada :
a) Tes akhir (sumatif)
b) Tes seleksi dengan acuan intra kelompok (situasi pada kelompo tersebut)
c) Tes prognostik, yang bertujuan membuat ramalan (dasar : apabila seseorang
d) menduduki tempat yang sama, semakin tampaklah tingkat kemampuan orang tersebut).

PAP digunakan pada :
a) Tes akhir (sumatif)
b) Tes seleksi dengan acuan diluar kelompok, misalnya patokan tujuan yang harus dicapai (standar tertentu)
c) Tes formatif (tes pembinaan dalam pengajaran), termasuk tes unit, postes ulangan harian/ formatif.
d) Tes diagnosis, mengetahui jenis dan penyebab kesulitan belajar siswa.

Konstruksi Tes dan Butir Soal
a) Hanya memasukkan bahan dan tujuan pelajaran yang penting diantara yang ada.
b) Soal ditulis dengan mem-perhatikan Tingkat Kesukaran.
c) Berusaha agar hasil tes berupa kurva normal.
d) Diusahakan semua tujuan dan bahan dimasukkan sesuai dengan posisinya.
e) Penulisan soal didasarkan pada yang mewakili TIK tanpa memperhatikan Tingkat Kesukaran.
f) Semakin kurva menunmpuk/ berat ke kanan semakin banyak yang lulus, artinya tujuan pengajaran semakin berhasil.

1. Penafsiran skor tiap siswa

Skor setiap siswa tidak dapat ditafsirkan sendiri artinya pasti melibatkan kelompok tersebut.Skor tiap siswa ditafsirkan tanpa menghubungkannya dengan siswa lain dalam kelompok tes. Selain perbedaan yang tersebut dalam tabel, masih ada perbedaan-perbedaan lain, misalnya :

a) Setiap pendekatan memerlukan persyaratan tertentu, misalnya untuk PAP guru harus menjabarkan TIU menjadi TIK.
b) Harus ada tes formatif untuk memantau PBM dan melaksanakan pengajaran remidial (jika diperlukan).
c) Perencanaan tes harus matang, perlu ada kisi-kisi.

2. Melakukan verifikasi data

Dalam evaluasi hasil belajar, wujud nyata dari kegiatan menghimpun data adalah melaksanakan pengukuran, misalnya dengan menyelenggarakan tes hasil belajar apabila evaluasi hasil belajar itu mengguanakan teknik tes, ataukah melakukan pengamatan, wawancara atau angket dengan menggunakan instrumen-instrumen tertentu berupa rating scale, check list, interview guide atau questionnaire apabila evaluasi hasil belajar itu menggunakan teknik non tes.

Data yang telah berhasil dihimpun disaring terlebih dahulu sebelum diolah lebih lanjut. Proses penyaringan itu dikenal dengan istilah penelitian data atau verifikasi data. Verifikasi data dimaksudkan untuk dapat memisahkan data yang baik yaitu data yang dapat memperjelas gambaran yang akan diperoleh mengenai diri individu atau sekelompok individu yang sedang dievaluasi, dari data yang kurang baik yaitu data yang mengaburkan gambaran yang akan diperoleh apabila data itu ikut serta diolah.

a. Mengolah dan menganalisis data

Mengolah dan menganalisis hasil evaluasi dilakukan dengan tujuan untuk memberikan makna terhadap data yang telah berhasil dihimpun dalam kegiatan evaluasi. Dalam mengolah dan menganalisis data hasil evaluasi itu dapat dipergunakan teknik statistika dan teknik non statistika, tergantung kepada kepada jenis data yang akan diolah dan dianalisis .

b. Memberikan interpretasi dan menarik kesimpulan

Penafsiran atau interpretasi terhadap data hasil evaluasi belajar pada hakikatnya adalah merupakan verbalisasi dari makna yang terkandung dalam data yang telah mengalami pengolahan dan penganalisisan itu. Atas dasar interpretasi terhadap data hasil evaluasi itu akhirnya dapat dikemukakan kesimpulan-kesmpulan tertentu. Kesimpulan-kesimpulan hasil evaluasi itu sudah tentu harus mengacu kepada tujuan dilakukannya evaluasi itu sendiri.

c. Tindak lanjut hasil evaluasi belajar

Berdasarkan data hasil evaluasi yang telah disusun, diatur, diolah, dinalisis, dan disimpulkan sehingga dapat diketahui makna yang terkandung di dalamnya maka pada akhirnya evaluator akan dapat mengambil keputusan atau merumuskan kebijakan-kebijakan yang dipandang perlu sebagai tindak lanjut dari kegiatan evaluasi tersebut. Harus diingat bahwa setiap kegiatan evaluasi menuntut adanya tindak lanjut yang konkret.

d. Teknik-Teknik Evaluasi Hasil Belajar di Sekolah

Dalam istilah “teknik-teknik evaluasi hasil belajar” terkandung arti alat-alat yang digunakan untuk melakukan evaluasi hasil belajar. Dalam konteks evaluasi hasil pembelajarn di sekolah, dikenal adanya dua macam teknik, yaitu teknik tes dan non tes. Dengan tenik tes, maka evaluasi hasil proses pembelajarn di sekolah itu dilakukan dengan cara menguji peserta didik. Sebaliknya, dengan teknik non tes maka evaluasi dilakukan tanpa menguji peserta didik.

Makalah Arminaven
1. POKOK-POKOK BAHASAN AKHLAK DI SMU
2. PENGERTIAN DAN RUANG LINGKUP PAI DI SLTP SMU
3. POKOK BAHASAN AL-QURAN DI SLTP
4. POKOK BAHASAN MUAMALAH DI SMU
5. Makalah sejarah masuknya islam ke indonesia
6. pemberian SCORE VERIFIKASI DAN STANDAR PENILAIAN PAP DAN PAN 
7. Makalah pokok bahasan aqidah SMP SMA 
8. perkembangan biologis dan perseptual anak
9. pengertian dan sejarah singkats osiologi pendidikan 
10. PANDANGAN islam TENTANG PEMBELAJARAN 
11. GURU DAN ADMINISTRASI PENDIDIKAN 
12. makalah pokok pokok ilmu tajwid dan kandungan alquran 
13. ADMinistrasi PENDIDIKANI 
14. pembuatan KTSP 
15. makalah landasan pengembangan kurikulum 
16. Kumpulan Judul Skripsi Pendidikan Agama Islam 
17. makalah Hadist 
18. masa'ilul fiqhiyah 
19. Makalah JENIS-JENIS SYARAT EVALUASI PENDIDIKAN ISLAM 
20. makalah MPDP SKI
21. POKOK BAHASAN AKHLAK DI SLTP
22. POKOK BAHASAN AL-QURAN DI SMU 
23. POKOK BAHASAN AQIDAH DI SLTP
24. POKOK BAHASAN IBADAHD SLTP SMU
25. tanggung jawab Kepala Sekolah Sebagai Administrator Pendidikan
26. MAKALAH SPI abbasiyahumayyah
27. Makalah_dasar-dasar pendidikan islam
28. Makalah PsikologiUmum
29. makalah SEJARAH kemunduran PERADABAN ISLAM
30. psikologi perkembangan perseptual anak 
31. makalahQ PLS kejar paket ABC
32. Makalah SPI_dinasti abbasiyah
33. objek ijtihad 
34. makalah kapita selekta pendidikan 
35. makalah OBJEK N KEGUNAAN FILSAFAT ISLAM
36. makalah psikologi belajar dan hakikat kejiwaan dalam belajar 
37. makalah ontologi-filsafat
38. makalah partai politik demokrat
39. makalah pengertian dan ruang lingkup pendidikan agama islamMt sMA





Artikel Terkait makalahku

Belajar Ilmu Komputer Lengkap